Tampilkan postingan dengan label Fathimah Azzahra RA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fathimah Azzahra RA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 April 2019

Sayyidatuna Fathimah Az- Zahra  AND Ali bin Abi Thalib

Dalam Diam Ada Cinta

Kisah cinta yang sudah terpendam sejak lama, kisah cintanya sangat terjaga kerahasiaannya dalam kata, sikap dan ekspresi mereka bahkan konon syaithanpun tak bisa mengendusnya, mereka bisa menjaga izzah mereka, hingga Allah telah menghalalkannya.

Ali bin Abi Thalib adalah keponakan dan salah satu sahabat yang istimewa dimata Rasulullah SAW. Selain beliau tinggal langsung bersama Rasulullah, dia juga seorang pemberani yang pernah menggantikan posisi tidur Rasulullah disaat hijrah dan juga seorang mujahid perang yang gagah.

Sementara Fatimah, putri Rasulullah SAW yang taat, penyayang dan sangat peduli pada Rasulullah SAW, selalu ada disamping ayahnya dalam setiap kisah perjuangan sang ayah membumikan nilai-nilai islam di tengah kafir Quraisy.

Ali sudah menyukai Fatimah sejak lama, kecantikan putri Rasulullah ini tak hanya jasmaninya saja, kecantikan Ruhaninya melintasi batas hingga langit ketujuh. Kendalanya adalah perasaan rendah dirinya, apakah mampu ia membahagiakan putri Rasulullah dengan keadaannya yang serba terbatas. Demikian kira-kira perasaan yang ada pada Ali saat itu.

Pada suatu ketika, Fatimah dilamar oleh seorang laki-laki yang selalu dekat dengan nabi, yang telah mempertaruhkan kehidupannya, harta dan jiwanya untuk Islam, menemani perjuangan Rasulullah SAW sejak awal-awal risalah ini.

Dialah Abu Bakar Ash Shiddiq, entah kenapa mendengar berita ini Ali terkejut dan tersentak jiwanya, muncul rasa-rasa yang diapun tak mengerti, Ali merasa diuji karena terasa apalah dirinya jika dibanding dengan Abu Bakar kedudukannya disisi nabi.

Ali merasa belum ada apa-apanya bila dibanding dengan perjuangannya dalam menyebarkan risalah Islam, entah sudah berapa banyak tokoh-tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan dakwahnya. Sebutlah ‘Utsman, ‘Abdurrahman bin auf, Thalhah, Zubair, Sa’d bin abi Waqqash, Mush’ab. Ini yang tak mungkin dilakukan oleh anak-anak seperti Ali. Tak sedikit juga para budak yang dibebaskan oleh Abu Bakar sebutlah Bilal bin rabbah, khabbab, keluarga yassir, ‘Abdullah ibn mas’ud.

Dari sisi finansial Abu Bakar seorang saudagar, tentu akan lebih bisa membahagiakan Fatimah, sementara Ali?, hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

Melihat dan memperhitungkan hal ini, Ali ikhlas dan bahagia jika Fatimah bersama Abu Bakar, meskipun ia tak mampu membohongi rasa-rasa dalam hatinya yang ia sendiri tak mengerti, apakah mungkin itu yang namanya cinta?

Namun ternyata lamaran Abu Bakar ditolak oleh Fatimah sehingga hal ini menumbuhkan kembali harapannya. Ali kembali mempersiapkan diri, berharap dia masih memiliki kesempatan itu.

Namun ujian bagi Ali belum berakhir, setelah Abu Bakar mundur muncullah laki-laki nan gagah perkasa dan pemberani. Seseorang yang dengan masuk Islamnya mengangkat derajat kaum muslimin, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. Seorang yang diberi gelar Al-Faruq.
Ya, dialah Umar ibn Al Khaththab. Pemisah antara kebenaran dan kebatilan juga datang melamar Fatimah.

Ali pun ridha jika Fatimah menikah dengan Umar, ia bahagia jika Fatimah bisa bersama dengan sahabat kedua terbaik Rasulullah setelah Abu Bakar yang mana Rasulullah sampai mengatakan “Aku datang bersama Umar dan Abu Bakar”.

Namun kemudian Ali pun semakin bingung karena ternyata lamaran Umar pun ditolak.

Setelah itu menyusul Abdurahman bin Auf melamar sang putri dengan membawa 100 unta bermata biru dari mesir dan 10.000 Dinnar, kalo diuangkan dalam rupiah kira kira 55 milyar. Dan lamaran bermilyar-milyar itupun ditolak oleh Rasulullah.

Akan tetapi kekhawatiran Ali bin Abi Thalib belum berakhir sampai di sini karena ternyata sahabat yang lainpun melamar sang Az Zahra. Usman bin Affanpun memberanikan dirinya melamar sang putri, dengan mahar seperti yang dibawa oleh Abdurrahman bin Auf, hanya ia menegaskan kembali bahwa kedudukannya lebih mulia di banding Abdurrahman bin Auf karena ia telah lebih dahulu masuk islam.

Tidak disangkaa tidak diduga, ternyata Rasulullahpun menolak lamaran Usman bin Affan.

Empat sahabat sudah memberanikan diri dan mereka semua telah ditolak oleh Rasulullah SAW.

“Mengapa bukan engkau saja yang mencobanya kawan?”, seru sahabat Ali,
"Mengapa engkau tak mencoba melamar Fatimah?, aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
“Aku?”, tanyanya tak yakin.
“Ya. Engkau wahai saudaraku!”
“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa aku andalkan?”
Sahabatnyapun menguatkan “Kami dibelakangmu, kawan!

Akhirnya Ali bin Abi Thalibpun memberanikan diri menjumpai Rasulullah untuk menyampaikan maksud hatinya, meminang putri nabi untuk jadi istrinya. Awalnya beliau hanya duduk di samping Rasulullah dan lama tertunduk diam. Hingga Rasulullahpun bertanya ” wahai putra Abu Thalib, apa yang engkau inginkan?”

Sejenak Ali terdiam, dan dengan suara bergetar iapun menjawab, ” Ya Rasulullah, aku hendak meminang Fatimah” Mendengar jawaban Ali ini beliau SAW tidak terkejut. "Bagus, wahai Ibnu Abu Thalib, beberapa waktu terakhir ini banyak yang melamar putriku, tetapi ia selalu menolaknya, oleh karena itu, tunggulah jawaban putriku”

Kemudian Rasulullah meninggalkan Ali dan bertanya kepada putrinya, ketika ditanya Fatimah hanya terdiam dan Rasulullah SAW menyimpulkan bahwa diamnya Fatimah pertanda kesetujuannya.

Rasulullah kemudian mendekati Ali dan bersabda "Apakah engkau memiliki sesuatu yang akan engkau jadikan mahar wahai Ali?

Alipun menjawab ” Orang tuaku yang menjadi penebusnya untukmu ya Rasulullah, tak ada yang aku sembunyikan darimu, aku hanya memiliki seekor unta untuk membantuku menyiram tanaman, sebuah pedang dan sebuah baju zirah dari besi”

Dengan tersenyum Rasulullah SAW bersabda "Wahai Ali, tidak mungkin engkau terpisah dengan pedangmu, karena dengannya engkau membela diri dari musuh-musuh Allah SWT dan tidak mungkin juga engkau berpisah dengan untamu karena ia engkau butuhkan untuk membantumu mengairi tanamanmu, aku terima mahar baju besimu, jual lah dan jadikan sebagai mahar untuk putriku” Wahai Ali engkau wajib bergembira sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di Langit sebelum aku menikahkan engakau di Bumi" Diriwayatkan oleh Ummu Salamah ra.

Ali bin Abi Thalib menjual baju besi tsb dengan harga 400 dirham dan menyerahkan uang tersebut kepada Rasulullah SAW, dan nabipun membagi uang tersebut ke dalam 3 bagian. Satu bagian untuk kebutuhan rumah tangga, satu bagian untuk wewangian dan satu bagian lagi di kembalikan kepada Ali bin Abi Thalib sebagai biaya untuk jamuan makan untuk para tamu yang menghadiri pesta.

Setelah segala-galannya siap,dengan perasaan puas dan hati gembira dan di saksikan oleh para sahabat Rasulullah mengucapkan kata ijab kabul pernikahan putrinya

Kemudian Nabi SAW bersabda:"Sesunguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah Putri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib,Maka saksikanlah sesunguhnya aku telah menikahkanya dengan mas kawin empat ratus dihram(nilai sebuah baju besi) dan Ali Ridho(menerima)mahar tersebut.

Maka menikahlah Ali dengan Fatimah Pernikahan mereka penuh hikmah walau di arungi di tengah kemiskinan Bahkan di sebutkan oleh Rasulullah sangat terharu melihat tangan Fatimah yang kasar karena harus menepung gandum untuk membantu suaminya

Dan malam harinya setelah dihalalkan oleh Allah SWT, terjadilah dialog yang sangat menggetarkan. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali,

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”,
Ali pun bertanya mengapa ia tak mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya.
Sambil tersenyum Fatimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.”

Subhanallah, itu adalah pujian terbaik dari seorang istri yang bisa membahagiakan hati suaminya.

Ali dan Fatimah saling mencintai karna Allah mereka mencintai dalam diam,menjaga cintanya dan Allah satukan dalam ikatan suci pernikahan Maa Syaa Allah.

Semoga Allah SWT mempertmukan kita semua dengan orang yang sunguh-sunguh mencintai kita seperti Fatimah dan Ali.

Aamiin Yaa Robbal Alamiin
Cnp dari Majlis Rasulullah Bojonegro

Rabu, 22 November 2017

Ibunda Fathimah Azzahra-ra

Ibunda Sitti Fathimah Azzahra-ra

Sitti Khadijah ra, ibunda Sitti Fathimah Azzahra' ra, adalah seorang wanita keturunan salah satu suku yang paling terkemuka di Jazirah Arabia, suku Qureisy. Ayahnya bernama Khuwailid bin Asad bin Abdil Uzza bin Qushay. Silsilahnya bertemu dengan silsilah Rasulallah saw pada datuk mereka yang bernama Qushay, induk semua anak suku Qureiys.
Khuwailid terkenal keberaniannya ketika ia menantang Raja Tubba yang hendak memboyong HAJAR ASWAD ( Batu Hitam ) dari Makkah ke Yaman. Meskipun Raja Tubba mempunyai pasukan kuat, tetapi Khuwailid tetap teguh mempertahankan benda suci lambang agama orang-orang Qureiys itu. Keberanian dan keteguhan tekad Khuwailid yang dilandasi kecintaan kepada

" AGAMA " yang dianutnya, tampak diwarisi oleh Sitti Khadijah ra. Hal ini tercermin dengan jelas ketika ia dengan penuh kasih sayang dan pengertian yang mendalam, menyambut kedatangan suaminya, Muhammad bin Abdullah saw, sehabis menerima wahyu pertama di Gua Hira.
Ibunda Sitti Khadijah bernama Fathimah binti Zaidah bin Al-Asham dari Bani 'Amir bin Qushay bin Ghalib. Dari silsilah yang bersih itu, Sitti Khadijah ra memperoleh kemuliaan tinggi. Ia terlindung dari noda kekotoran Jahiliyah, dan kehormatannya terpelihara baik dari segala sifat rendah yang dapat memerosotkan martabatnya. Sedemikian besar inayat Ilahi yang diberikan kepada Sitti Khadijah ra, sehingga ia disebut orang dengan " As-Sayyidah At-Thahirah "
" wanita suci ".
Sitti Khadijah ra dibesarkan dalam lingkungan keluarga keturunan baik-baik dan diperkaya dengan sifat serta akhlak terpuji dan luhur. Karena itu tepat jika dikatakan bahwa Sitti Khadijah ra adalah seorang wanita sempurna. Sebab di samping memiliki paras yang cantik dan bentuk tubuh yang indah ia juga mempunyai kecerdasan berfikir, ketajaman firasat dan budi pekerti utama. Pandangannya yang jauh ke depan dapat memahami dengan cermat akibat yang akan ditimbulkan oleh suatu kejadian.
Sitti Khadijah ra menempati kedudukan yang tinggi baik dilihat dari asal keturunannya, ketinggian akhlaknya, maupun kekayaan materinya. Ia berdarah Qabilah yang terhormat dan disegani oleh seluruh orang Arab. Dan ia juga termasuk wanita terkaya di Makkah pada waktu itu. Kekayaannya itu diperoleh berkat kerajinan dan keulitannya berniaga. Dari usaha-usahanya yang dijalankan dengan jujur, tampak jelas sifat-sifat peribadinya yang baik sekali. Itulah antara lain yang mengangkatnya dalam kedudukan sangat terpandang pada masa Jahiliyah. Ia terkenal oleh lingkungannya sebagai mutiara yang sangat tinggi nilainya.
Putera paman Sitti Khadijah ra yang bernama Waraqah bin Naufal, dikenal sebagai seorang ilmuwan yang mendalami kitab-kitab Yahudi dan Nasrani. Timbulnya hasrat Waraqah untuk mempelajari kitab-kitab itu ialah karena ia tidak dapat menerima penyembahan berhala yang dilakukan oleh orang-orang Arab pada masa itu. Hatinya tergerak untuk berusaha mencari agama yang benar dan dapat diterima oleh fikiran dan hati nuraninya.
Waraqah inilah orang yang menyampaikan berita kenabian kepada Muhammad saw setelah mendengar berita tentang turunnya Wahyu di Gua Hira. Berkatalah ia waktu itu kepada Rasulallah saw:
" Sesungguhnya engkau akan menjadi seorang
Nabi yang besar. Agamamu akan lahir dan tersebar di seluruh dunia. Akan tetapi mulai sekarang engkau akan mengalami perlakuan yang kasar dari kaummu, sebab engkau akan mengalihkan mereka dari agama yang mereka anuti turun-temurun kepada agama lain. Apa yang hendak kaulakukan itu adalah tugas yang berat. Engkau akan dimusuhi bahkan akan dikeluarkan dari negerimu, namun ALLAH akan menolongmu. "
Setelah berhenti sejenak, sambil memandang suami sepupunya itu, Waraqah menutup kata-katanya yang masyhur itu dengan ucapan:
" Jika sekiranya Allah swt memberiku umur panjang dan hidup mengalami masa kenabianmu, engkau pasti akan kuberi pertolongan sepenuhnya, hai Muhammad! "

Dengan seorang saudara sepupu yang berpengalaman luas tentang soal-soal keagamaan, dan dengan seorang ayah yang memiliki keberanian mempertahankan agama, tepat benarlah jika Sitti Khadijah ra menjadi isteri Rasulallah saw. Ia terpilih sebagai isteri manusia agung, isteri seorang Nabi yang dijunjung tinggi oleh ummatnya. Bukan karena kekayaannya yang melimpah-ruah, juga bukan karena kecantikannya yang menggiurkan, tetapi karena keluhuran budi pekertinya. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berwatak setia pada agama.
Sejak masa sebelum Islam, yaitu pada masa bangsa Arab masih berada dalam kegelapan diselubungi oleh kehidupan jahiliyah, Sitti Khadijah ra sudah mendapat penamaan sebagai " Syyidah Nisa 'i
Qureiys ", yang ertinya
" Wanita Qureiys Terkemuka " .
Sebelum menjadi isteri Muhammad saw ia pernah dua kali bersuami. Suami yang pertama bernama Abu Halah bin Zararah. Suami yang kedua bernama 'Atiq bin 'Abid Al-Makhzumi.
Dari perkahwinannya dengan Abu Halah, ia melahirkan seorang putera bernama Hindun.
( menurut kebiasaan Arab, nama " Hindun " dapat dipergunakan bagi pria atau wanita ). Dalam perkembangan sejarah selanjutnya Hindun putera Abu Halah ini kemudian memeluk Islam dan langsung mengikuti pertumbuhannya. Al-Husain bin 'Ali ra, cucu Rasulallah saw, pernah mengatakan bahwa Hindun terkenal sebagai orang yang pandai sekali menceritrakan sejarah perkembangan Islam dengan segala kebesarannya. Ia pandai pula melukiskan keluhuran dan keagungan budi pekerti Rasulallah saw.
Dengan kebanggaan yang cukup beralasan, Hindun sering mengatakan: " Dilihat dari sudut ayah, ibu dan saudara-saudara lelaki dan perempuanku, maka aku ini adalah orang yang mulia...Ayah tiriku adalah Rasulallah saw, sedangkan Gasim ( putera Rasulallah ) adalah saudaraku. Semuga Allah selalu memberkahi mereka. "
Hindun putera Sitti Khadijah ra ini, turut serta dalam peperangan bersejarah di Badr. Ia gugur dalam " Perang Unta " ("Waqatul Jamal") sebagai prajurit Imam
'Ali krw, ketika bertempur melawan pasukan Thalhah dan Zubair.
Dari suami yang kedua yaitu 'Atiq bin 'Abid Al-Makhzumi, Sitti Khadijah ra memperoleh seorang anak perempuan yang juga diberi nama Hindun,
Hindun ( perempuan ) ini hidup diberkahi Allah dengan nikmat Iman dan Islam. Ia termasuk salah seorang wanita sahabat Rasulallah saw.
Pengungkapan sekelumit kesah tentang putera dan puteri Sitti Khadijah ra dari suaminya terdahulu, yakni sebelum nikah dengan Nabi Muhammad saw, adalah sekadar untuk memberi gambaran agak lengkap tentang riwayat seorang wanita isteri junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw. Oleh sementara penulis sejarah, hal ini agak diabaikan. Mereka berdalih bahwa kemuliaan yang diperolehi Sitti Khadijah ra hanya sejak ia menjadi isteri Rasulallah saw. Karena itulah dua orang anak yang bernama Hindun dari suami Sitti Khadijah ra sebelumnya hampir tidak dikenal.
Setelah suami yang kedua meninggal, Sitti Khadijah ra yang masih cukup muda dan berparas cantik itu tidak sedikit menghadapi
lamaran-lamaran yang datang dari para pemuka dan tokoh Qureiys. Semua lamaran itu ditolak. Tak seorang pun di antara para pelamar itu yang berkenan di hatinya. Tidak ada bangsawan Qureiys yang berhasil mempersunting wanita terhormat dan terkemuka itu.
Tetapi setelah bertemu dengan Muhammad bin 'Abdullah, dan dikenalnya sebagai pemuda yang lurus, jujur serta dapat dipercaya penuh menjalankan perniagaannya, ia sangat kagum. Pemuda itu segera memperolehi tempat di hatinya. Demikianlah proses kehidupannya sebagai wanita yang mendapat karunia Allah. Hidup mendampingi Nabi Muhammad saw selama dua puluh lima tahun. 15 tahun sebelum bi'tsah dan sepuluh tahun sesudah itu.
http://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com
abdkadiralhamid@2016